A. LEMBAR JAWABAN
1 firman Allah tentang “ manusia
adalah mahluk yang mulia” yaitu :
Artinya
: allah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezki kemudian mematikan kamu
kemudian menghidupkan kamu kembali
2. gambar perbedaan ilmu emperis dengan common sense :
1. common
sense pengetahuan
2. commo
sense random
3. common
sense kabur
Empirical
sciense ilmu-ilmu empiris
bahwa empirical science berhubungan dengan aspek pengalaman, tetapi bukan sekedar
pengalaman biasa seperti yang dilakukan oleh common science, dengan terjadinya
pengetahuan ata ilmu pengetahuan formal dan empirical science serta ilmu-ilmu
yang mengandung hukum-hukum.
3. metode kombinasi ialah : menggunakan
suatu pembaruan atau mencampur adukkan saling mempengaruhi, pada metode-metode
yang sistimatis terhadap manusia yang sadar dengan mempergunakan hasil
pemikiranya.
4. keperhatinan
pembawaan manusia adalah : menurut Ibnu Sina supaya instin anak-anak diperhatikan sebagai landasan
dalam pendidikannya beliau berkata tidak semua perkataan yang dicita-citakan
anak itu terbuka dan sesuai baginya tetapi hanyalah pekerjaan-pekerjaan yang
sesuai dengan sifat pembawaanya.[1]
5. pendidikan dan pengajaran dalam
islam ialah :
1. Institusi
2. Kurikulum
3. Administrasi
4. Supervise
5. Bimbingan
6. Penyuluhan
7. Evaluasi
6. bunyi bab 1 ayat 1 ialah :
Menetapkan
pendidikan agama, menjadi mata pelajaran di sekolah-sekolah dasar sampai dengan
universitas-universitas negri,adanya ketetapan tersebut yang berarti
embel-embel/kata-kata tambahan dan merupakan hasil perjuang P.K.I itu
Dihapuskan bersamaan dilarangnya.
Partai komunis di Indonesia, sehingga pendidikan agama merupakan mata pelajaran
pokok disemua sekolah termasuk perguruan tinggi dengan pengertian bahwa, mata
pelajaran pendidikan agama ikut menentukan naik/tidaknya kekelas berikutnya
seorang anak didik ataupaun murid,demi kemauan dari P.K.I (partai komunis
Indonesia)[2]
7. pedoman kerukunan hidup beragama
ialah : “ agama dan alam asli kerokhanian asli di Indonesia” semua agama
jumlah penganutnya bertambah besar dan luas mempuhnyai tertib hokum maka penduduk
Indonesia boleh saling menghujat antara satu dengan yang lainya.
8. hadis rasulullah saw. (H.R. Muslim) yakni :
Artinya
: dari abu hurairah, r,a, bahwa nabi saw bersabda barangsiapa memberikan
kelonggaran(kebebasan) kepada orang mu’min satu macam kesusahan dunia, maka
oleh Allah dia akan diberikan kelonggaran satu macam kesusahan dan beberapa
kesusahan hari kiamat, dan barang siapa memberikan kemudahan kepada, orang
mu’min yang sedang dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan
kepadanya di dunia dan akirat. Dang barang siapa yang menutup cela (aib)
seorang mu’min maka Allah akan menutup celanya di dunia dan di akhirat Allah
selalu memberikan pertolongan kepada hamba-Nya sebagai hamba itu, menolong
saudaranya dan barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka, Allah
akan, memudahkan jalan untuk kesurga[3]
B. LEMBAR RESUMA.
Resume 1
1.
Sesuai dengan firman Allah S.W.T yang menjelaskan bahwa hidup, maut dan rezki
adalah Allah s.w.t yang mengaturnya
2.
Empirical science adalah ilmu-ilmu
yang berhubungan dengan pengalaman dan pengetahuan yang mengandung hokum-hukum.
3.
Metode kombinasi merupakan metode yang
mempengaruhi metode-metode sistimatis terhadap manusia.
4.
Dalam buku Athiya Al-
Abrasyi(1969,29), instink anak adalah landasan dalam pendidikan dan tidak semua
pekerjaan yang dicita-citakan anak sesuai dengan sifat pembawaanya.
Resume
2
1.
Unsure-unsur pendidikan ialah, 1)
institusi, 2)kurikulum, 3)administrasi, 4) supervise, 5) bimbingan, 6)
penyuluhan dan 7) evaluasi.
2.
Dengan adanya ketetapan M.P.R.
NO.II/MPRS/1960 bab 1 ayat 1 menerangkan bahwa status pendidikan agama di
Indonesia mmasih bersifat “facultative”(tidak diwajibkan)
3.
Dalam Hendropuspito(1983, 188)
mengatakan tentang gambaran singkat, keadaan musyawarah antara agama di
Indonesia, sehingga diperlukan pedoman pembinaan kerukunan hidup beragama.
4.
Dalam hadits Rasulullah Saw. Yang
diriwayatkan oleh H.R. Muslim yang isinya tentang keluhan anak dalam menghadapi
pelajaran.
C. LEMBAR CERAMAH
ceramah 1
RAMADHAN: BULAN PENUH
BAROKAH DAN MAGHFIROH
Assalamu'alaikum wr. wb.;
Para jamaah Tarawih/qiyamur
Ramadhan;
- Marilah kita bersyukur dapat memasuki dan menyambut Ramadhan, "tamu agung, penghulu segala bulan" yang telah lama kita tunggu-tunggu kedatangannya. Sepatut-nya kita sambut datangnya Ramadhan ini dengan penuh rasa syukur, karena :
- kita masih diberi kesempatan untuk memasuki dan menyambut bulan ini, padahal mungkin ada di antara kita yang tidak berkesempatan menemui bulan Ramadhan ini (karena telah mendahului kita/mening-gal dunia);
·
kita masih tergolong orang-orang beriman, yang terpanggil hatinya untuk melaksanakan perintah wajib puasa sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Al-Baqoroh: 183; sepatutnya hal ini disyukuri, karena ada orang yang hatinya/imannya tetap beku, tidak mau menjalankan perintah puasa. Bulan puasa (tamu agung) itu memang telah datang, tetapi tidak datang di rumahnya; tidak datang di hatinya dan di tengah-tengah keluarganya!;
kita masih tergolong orang-orang beriman, yang terpanggil hatinya untuk melaksanakan perintah wajib puasa sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Al-Baqoroh: 183; sepatutnya hal ini disyukuri, karena ada orang yang hatinya/imannya tetap beku, tidak mau menjalankan perintah puasa. Bulan puasa (tamu agung) itu memang telah datang, tetapi tidak datang di rumahnya; tidak datang di hatinya dan di tengah-tengah keluarganya!;
·
tamu yang datang bukan sekedar tamu biasa, tetapi tamu
istimewa/tamu agung yang "sangat pemurah" ("bloboh");
bulan penuh keberkatan ("syahrun mubarok") dan penuh pengampunan
("syahrul maghfiroh");
·
Ramadhan : Syahrun Mubarok
Ramadhan : Syahrun Mubarok
Dikatakan
demikian, karena bulan Ramadhan menjanji-kan banyak barokah, pahala, ganjaran :
- Hadits Anas bin Malik, menyatakan antara lain, bahwa dalam bulan Ramadhan
- mendatangi majlis ilmu : 1 langkah = 1 tahun ibadah;
- sholat berjamaah : tiap rakaat = 1 kota kenikmatan;
- taat pada orang tua: mendapat kasih sayang Allah dan Nabi menanggung dalam surga;
- istri mencari keridloan suami : pahalanya seperti Siti A'isyah dan Siti Maryam;
- mencukupi kebutuhan saudaranya : akan dicukupi 1000 kebutuhannya di hari Qiyamat;
- Di dalam hadits lain dinyatakan a.l. :
- tidurnya orang berpuasa = ibadah;
- diamnya orang berpuasa = tasbih;
- amalnya orang berpuasa, dilipatgandakan;
- do'anya orang berpuasa, dikabulkan; dan
- dosanya orang berpuasa, diampuni.
- Di dalam HR Bukhori a.l. dinyatakan :
- 1 hari puasa = dijauhkan 70 th. dari api neraka;
- Di dalam Al Qur'an (Q.S. Qodar) : malam qodar (di bulan puasa) nilainya lebih dari 1000 bulan (lebih dari 83 tahun);
·
Ramadhan : Syahrul Maghfiroh
- HR (Hadits Riwayat) Bukhori-Muslim :
"Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan keimanan dan keikhlasan, akan diampuni segala dosa-dosanya".
Jadi jelas, bulan ramadhan merupakan "bulan Amnesti/Pengampunan" besar-besaran!
- "Maghfiroh/ampunan" merupakan kebutuhan fital manusia, karena dalam 11 bulan yang lalu mungkin tidak terasa kita telah banyak melakukan dosa dan kelalaian, antara lain:
- melalaikan sholat dan puasa (mendahulukan yang lain atau bahkan meninggalkannya sama sekali);
- segan membaca Al Qur'an, bahkan lebih suka ngobrol, ngrasani, melukai hati orang atau terbiasa mengeluarkan kata kata kotor;
- lupa bersyukur akan nikmat Allah yang demikian banyak;
- segan beramal, menolong fakir miskin atau orang tua/saudara/ kerabat yang kekurangan;
- banyak melakukan maksiat-maksiat lainnya, a.l. : durhaka/melawan orang tua; sering dusta; makan/minum yang haram; perbuatan tidak senonoh dalam pergaulan (misal "tangan gratil"); mencari rizki dengan cara-cara kotor dan tidak terpuji; dsb.
Jadi
pada intinya, terlalu banyak mungkin dosa yang telah kita lakukan, baik sebagai
hamba Allah, sebagai anak, sebagai orang tua, sebagai suami/istri, sebagai
tetangga, sebagai buruh, sebagai majikan, pejabat/ pimpinan dsb. Oleh karena
itulah kita butuh "maghfiroh".
- Namun patut dicatat, bahwa "maghfiroh" itu hanya dapat diperoleh lewat puasa dan sholat yang dilakukan dengan "iimanan wah tisaaban" yaitu :
- dengan penuh kesungguhan/keyakinan (iman); dan
- dengan kesabaran/keikhlasan, semata-mata menca-ri keridhoan Allah.
Di
dalam Q.S. Ar-Ra'd: 22 dinyatakan, bahwa orang-orang yang "bersabar karena
mencari keridhoan Allah"
("walladziina
shobarub tighooa wajhi robbihim")
termasuk salah satu dari
"mereka yang mendapat tempat kesudahan yang baik"
("ulaaika lahum 'uqbad daar")
Oleh karena itu, marilah kita bersabar di dalam menjalankan ibadah puasa dan sabar di dalam menjalankan ibadah shalat, termasuk tarawih (sholatul lail), dan amalan-amalan puasa lainnya. Semoga kita termasuk "orang-orang yang mendapat tempat kesudahan yang baik" sebagaimana dijanjikan Allah di dalam surat Ar-Ra'd di atas. Amiin.
Demikianlah
ceramah yang singkat ini mudah-mudahan bermanfaat dalam kehidupan kita
sehari-hari:
Minallahi Mustaanu Wailaehitiklam
Assalamu
Alaikum Wr.Wb
ceramah 2
MENYAMBUT
KEDATANGAN BULAN SUCI RAMADHAN
Assalamu'alaikum wr.
wb.;
Sesungguhnya aku
menasehatkan kepada saudaraku-saudaraku kaum muslimin di mana pun berada
terkait dengan masuknya bulan Ramadhan yang penuh barakah tahun 1413 H ini[4] dengan taqwa
kepada Allah ‘Azza wa Jalla, berlomba-lomba dalam seluruh bentuk kebaikan,
saling menasehati dengan al haq, dan bersabar atasnya, at-ta’awun (saling
membantu) di atas kebaikan dan taqwa, serta waspada dari semua perkara yang
diharamkan Allah dan dari segala bentuk kemaksiatan di manapun berada. Terlebih
lagi pada bulan Ramadhan yang mulia ini, karena ia adalah bulan yang agung.
Amalan-amalan shalih pada bulan itu dilipatgandakan (pahalanya), dosa dan
kesalahan akan terampuni bagi siapa saja yang berpuasa dan mendirikannya
(dengan amalan-amalan kebajikan) dengan penuh keimanan dan rasa harap (akan
keutamaan dari-Nya), berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
ا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا
غُفِرَ لَهُ مَ
“Barangsiapa yang
berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan rasa harap, maka akan
diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Al Bukhari 2014 dan Muslim 760)[5]
Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam
Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam
Jika telah masuk
bulan Ramadhan, pintu-pintu Al Jannah akan dibuka, pintu-pintu Jahannam akan
ditutup, dan para syaitan akan dibelenggu. (HR. Al Bukhari 1899 dan Muslim
1079)[6]
Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :
Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :
Puasa itu adalah
perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah
mengucapkan ucapan kotor, dan jangan pula bertindak bodoh, jika ada seseorang
yang mencelanya atau mengganggunya, hendaklah mengucapkan: sesungguhnya aku
sedang berpuasa. (HR. Al Bukhari 1904)[7]
Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi
wasallam
Allah ‘Azza wa
Jalla berfirman: Semua amalan anak Adam untuknya, setiap satu kebaikan akan
dibalas dengan sepuluh kali lipatnya, kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku,
Aku yang akan membalasnya. Karena seorang yang berpuasa telah meninggalkan
syahwat, makan, dan minumnya karena Aku. Bagi seorang yang berpuasa akan
mendapatkan dua kegembiraan: gembira ketika berbuka, dan gembira ketika
berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut seorang yang berpuasa itu di sisi
Allah lebih wangi daripada minyak wangi misk. (HR. Al Bukhari 1904 dan Muslim
1151)[8]
Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam memberikan kabar gembira kepada para shahabatnya dengan masuknya bulan
Ramadhan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka:
Telah datang
kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh barakah. Allah menurunkan
padanya rahmah, menghapus kesalahan-kesalahan, mengabulkan do’a, dan Allah
membanggakan kalian di hadapan para malaikat-Nya, maka perlihatkanlah kepada
Allah kebaikan dari diri-diri kalian, sesungguhnya orang yang celaka adalah
orang yang diharamkan padanya rahmat Allah. (Dalam Majma’ Az-Zawa`id
Al-Haitsami menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam
Al-Kabir)[9]
Dan beliau ‘Alaihish Shalatu Wassalam
bersabda:
Barangsiapa yang
tidak meninggalkan ucapan yang haram dan mengamalkannya, ataupun bertindak
bodoh, maka Allah tidak butuh dengan upaya dia dalam meninggalkan makan dan
minumnya. (HR Al Bukhari dalam Shahihnya).[10]
Hadits-hadits tentang keutamaan bulan
Ramadhan dan dorongan untuk memperbanyak amalan di dalamnya sangatlah banyak.
Maka aku juga
mewasiatkan kepada saudara-saudaraku kaum muslimin untuk istiqmah pada siang
dan malam-malam bulan Ramadhan dan berlomba-lomba dalam segala bentuk amalan
kebaikan, di antaranya adalah memperbanyak qira’ah (membaca) Al Qur’anul Karim
disertai dengan tadabbur (upaya mengkajinya) dan ta’aqqul (upaya memahaminya),
memperbanyak tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan istighfar, serta memohon
kepada Allah Al Jannah, berlindung kepada-Nya dari An Nar, dan do’a-do’a
kebaikan yang lainnya.
Sebagaimana aku
wasiatkan juga kepada saudara-saudaraku untuk memperbanyak shadaqah, membantu
para fakir miskin, peduli untuk mengeluarkan zakat dan menyalurkannya kepada
yang berhak menerimanya, disertai juga dengan kepedulian untuk berdakwah ke
jalan Allah subhanahu, memberikan pengajaran kepada orang jahil, dan melakukan
amar ma’ruf nahi mungkar dengan cara yang lembut, hikmah, dan metode yang baik,
disertai juga dengan sikap hati-hati dari segala bentuk kejelekan, dan
senantiasa bertaubat dan istiqmah di atas al-haq dalam rangka mengamalkan
firman-Nya.
Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada
Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (An Nur: 31)
Mudah-mudahan
Allah memberikan taufiq bagi semuanya kepada perkara-perkara yang diridhai-Nya,
dan mudah-mudahan Allah melindungi semuanya dari kesesatan (yang disebabkan)
fitnah dan gangguan-gangguan setan. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Maha
Mulia.[11]
Minallahi Mustaanu Wailaehitiklam
Assalamu Alaikum Wr.Wb
Ceramah 3
KEUTAMAAN
PUASA RAMADHAN
Assalamu'alaikum wr.
wb.;
Di dalam Al-Qur’an terdapat sekitar 90 ayat yang dimulai dengan panggilan
atau seruan kepada orang-orang yang beriman dengan kalimat: Hai
orang-orang yang beriman, suatu panggilan yang menunjukkan kecintaan
dari Allah Swt yang sangat dalam sehingga mereka yang diseru merasakan
getaran cinta dari Allah Swt yang membuatnya mudah menerima isi seruan dan
siap melaksanakan beban-beban yang terkandung di dalamnya. Itu pula yang
terasa dalam perintah melaksanakan puasa Ramadhan sebagaimana Allah berfirman
yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar
kamu bertaqwa (QS 2:183).
1. Memantapkan Aqidah Yang Kokoh
Tujuan utama puasa adalah mempersiapkan hati manusia untuk bertaqwa, sensitif, melembutkan hati dan takut kepada Allah. Taqwa membangkitkan kesadaran dalam hati sehingga mau menunaikan kewajiban, taqwa juga menjaga hati seseorang sehingga ia tidak mau merusak nilai-nilai ibadah puasa dengan maksiat meskipun hanya dengan getaran hati untuk berbuat maksiat. Ketaqwaan kepada Allah Swt merupakan bukti nyata dari kokohnya aqidah seseorang, karenanya puasa dibebankan kepada siapa saja yang beriman kepada Allah Swt agar keimanan itu dapat menjelma menjadi ketaqwaan yang sempurna. Karena itu taqwa menjadi puncak ketinggian rohani seorang muslim sehingga orang bertaqwalah yang berada pada posisi yang paling mulia di sisi Allah Swt, sebagaimana terdapat dalam firman Allah yang artinya: Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS 49:13).
Dalam konteks kehidupan masyarakat yang rusak, tujuan puasa ini menjadi sangat penting. Kokohnya iman menjadi modal utama bagi manusia untuk bisa memperbaiki akhlaknya, dari iman yang kokoh di dalam hati akan terwujud manusia yang berakhlak mulia. Karena itu Sayyid Quthb dalam dzilalnya menyatakan: “Apabila terjadi kerusakan pada suatu generasi manusia, maka untuk memperbaikinya bukan dengan memperketat hukum terhadap mereka melainkan dengan jalan memperbaiki pendidikan dan hati mereka serta menghidupkan rasa taqwa di dalam hati mereka”.
2. Memantapkan Hubungan Dengan Allah
Salah satu nilai tarbiyyah (pendidikan) dari ibadah puasa adalah upaya memantapkan hubungan dengan Allah Swt, hal ini karena setiap muslim yang berpuasa harus melaksanakannya karena Allah dan dilakukan dengan ketentuan-ketentuan yang datang dari Allah Swt. Sesuatu yang biasanya halal untuk dilakukan atau dinikmati, pada saat berpuasa seorang muslim diharamkan oleh Allah Swt dan ia tunduk saja kepada sang pencipta meskipun ia bisa melakukannya atau memiliki sepenuhnya untuk bisa dinikmati. Ini menunjukkan hubungan yang baik kepada Allah Swt yang menjelma dalam bentuk kepatuhan kepada-Nya, dan untuk itu seorang muslim mampu mengendalikan dan mengatasi tuntutan dari dalam dirinya yang bersifat fisik seperti makan, minum dan kebutuhan seksual.
Hubungan manusia yang jauh dengan Allah membuat manusia hanya bisa menyumbang persoalan dalam kehidupan ini, sedangkan masalah yang ada tidak mampu diatasi. Padahal bila manusia merasa dekat dengan Allah dan ia merasa selalu diawasi oleh Allah Swt, niscaya ia tidak berani menyimpang dari ketentuan-Nya dan bila penyimpangan itu sudah terjadi, iapun cepat mengakui kesalahannya hingga memiliki kesiapan untuk menjalani hukuman akibat kesalahan yang dilakukannya, bukan malah sudah salah tapi masih saja tidak merasa bersalah dan mncari seribu dalih untuk bisa menghindar dari hukuman dan berusaha menutupi kesalahan yang telah dilakukannya meskipun harus dengan kesalahan yang lain.
3. Memantapkan Hubungan Dengan Sesama
Puasa Ramadhan adalah ibadah yang dilakukan oleh kaum muslimin secara serentak di seluruh dunia. Kaum muslimin merasakan satu hal yang sama, yakni lapar dan haus dan sama-sama berjuang untuk mampu menahan dan mengendalikan diri dari melakukan sesuatu yang tidak dibenarkan oleh Allah Swt meskipun peluang untuk itu sangat besar. Nilai keserentakan ini diharapkan bisa menghasilkan kebersamaan dan hubungan yang baik dengan sesama muslim. Semangat kebersamaan merupakan modal yang sangat berharga bagi upaya perjuangan di jalan Allah Swt, apalagi Dia amat mencintai orang yang berjuang secara bersama-sama dengan kerjasama yang baik, Allah berfirman yang artinya: Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang dijalan-Nya dalam suatu barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh (QS 61:4).
4. Memantapkan Jiwa Ketabahan
Dalam perjuangan dibidang apapun, ketabahan jiwa merupakan sesuatu yang sangat dituntut adanya pada diri para pejuang, demikian pula halnya dengan perjuangan di dalam Islam dengan segala dimensinya yang luas. Namun harus kita sadari bahwa ketabahan tidak muncul dengan sendirinya, masing-masing orang perlu memperoleh pemahaman dan mendapatkan latihan guna memiliki ketabahan. Ibadah puasa adalah salah satu bentuk ibadah yang memberikan pendidikan dan latihan untuk memiliki ketabahan sehingga seorang muslim yang telah berpuasa semestinya menjadi orang yang memiliki daya tahan yang kuat dalam mempertahankan nilai-nilai kebenaran yang datang dari Allah Swt meskipun dalam kondisi yang sulit seperti haus dan lapar.
Oleh karena itu, ketika situasi menjadi begitu sulit dalam perjuangan yang dilakukan oleh Rasulullah Saw, khususnya sesudah wafatnya Siti Khadijah, seorang isteri dan pendukung perjuangan serta wafat juga Abu Thalib yang sering memberikan perlindungan kepada Nabi dari gangguan orang-orang kafir, maka Allah Swt menegaskan kepada Nabi Muhammad Saw untuk bertahan dan melanjutkan perjuangan, apapun yang terjadi. Allah Swt berfirman yang artinya: Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang-orang yang bertaubat bersamamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (QS 11:112).
Dengan demikian, momentum ibadah Ramadhan tahun ini menjadi saat yang
sangat penting untuk memperbaiki kondisi pribadi, keluarga, masyarakat dan
bangsa menuju ridha Allah Swt.[12]
Demikianla ceramah yang saya bawakan mudah-mudahan ada manfaatnya, lebih
dan kurangnya mohon dimaafkanaaa:
Minallahi Mustaanu Wailaehitiklam
Assalamu Alaikum Wr.Wb
DAFTAR
PUSTAKA
Hadist Rasulullah, riwayat H.R. Muslim
Al- Qur’an dan assunnah
Athiyah al-abrasyi (1968, 29)
Ketetapan M.P.R.S NO:XXVII/M.PR.S.
1966
D. LEMBAR RIWAYAT HIDUP
Data
pribadi
Nama : jufri
Jenis kelamin : Pria
Tempat, tanggal lahir : baddo-baddo, 28 desember 1977
Kewarganegaraan : Indonesia
Status perkawinan : Menikah
Tinggi, berat badan : 159 cm, 55 kg
Kesehatan : Sangat Baik
Agama : Islam
Alamat lengkap : jl poros je,nemadingin, kec. Pattallassang, kab. Gowa Nomor HP : 082187508286
E-mail : juve09.com@gmail.com
Jenis kelamin : Pria
Tempat, tanggal lahir : baddo-baddo, 28 desember 1977
Kewarganegaraan : Indonesia
Status perkawinan : Menikah
Tinggi, berat badan : 159 cm, 55 kg
Kesehatan : Sangat Baik
Agama : Islam
Alamat lengkap : jl poros je,nemadingin, kec. Pattallassang, kab. Gowa Nomor HP : 082187508286
E-mail : juve09.com@gmail.com
Pendidikan
» Formal
1986 - 1994: SD inpres hombes armed
1994 - 1997 : SMP Negeri mandai
1997 - 1999 : SMA Negeri 10, makassar
» Non Formal
2000 - 2001 : Kursus Computer Aliah Makassar
Kemampuan
- Kemampuan Komputer (menguasai mikrosof word, eksel, power point dan internet
» Formal
1986 - 1994: SD inpres hombes armed
1994 - 1997 : SMP Negeri mandai
1997 - 1999 : SMA Negeri 10, makassar
» Non Formal
2000 - 2001 : Kursus Computer Aliah Makassar
Kemampuan
- Kemampuan Komputer (menguasai mikrosof word, eksel, power point dan internet
je,nemadingin, 23-07-2012
Ketua Remaja Mesjid Al-Ihsan Baddo-Baddo Mahasiswa
Ketua Remaja Mesjid Al-Ihsan Baddo-Baddo Mahasiswa
(……………………………)
( jufri )
[1]
Ibnu sina,insting anak,(athiyah
Al-abrasyi 1969), h. 29
[2]
Ketetapan M.P.R.S NO:XXVII/M.PR.S. 1966
[3]
Hadist Rasulullah, riwayat H.R. Muslim
[4] Nasehat ini
disampaikan pada 1413 H. namun karena isi nasehat ini tidak pernah kadaluwarsa
dan senantiasa relevan maka kami tampilkan kembali meskipun sudah berlalu
sekitar 19 tahun yang lalu
[5]
Hadist Rasulullah riwayat bukhari dan muslim (2014, 760)
[6]
Ibid, (1899,1079)
[7]
Hadist Rasulullah riwayat H.R AL bukhari, (1904)
[8]
Opcit,(1904,1151)
[9]
Hadist, Al-Kabir riwayat ath-tabrani
[10]
0pcit